Beberapa waktu lalu saya membuka kotak pertanyaan di Instagram dan YouTube. Ini rangkuman jawabannya, dikelompokkan dari yang umum ke yang spesifik. Setiap pertanyaan ditampilkan dalam Bahasa Indonesia lalu Inggris. Nama penanya sengaja disamarkan.
A while ago I opened a question box on Instagram and YouTube. Here’s a summary of the answers, grouped from general to specific. Each question appears in Indonesian, then English. Askers’ names are intentionally masked.
Sebelum mulai. FAQ ini untuk pertanyaan soal cara pandang, cara berpikir, dan hal-hal di balik kebiasaan kita, dengan game (juga film, dan keseharian) sebagai lensa. Ini bukan tempat untuk pertanyaan teknis seputar game: spesifikasi perangkat, build, cara menamatkan, atau bocoran cerita.
Before we start. This FAQ is for questions about perspective, how we think, and what sits behind our habits, with games (and film, and everyday life) as the lens. It’s not the place for technical game questions: hardware specs, builds, how to finish, or story spoilers.
1. Tentang Hartzel & Channel — About Hartzel & the Channel

Ricoh FX-30 Super, Vibe 100 BW
Hartzel nama asli lu bukan, bang? / Nama asli lu apa? (le***)
Apa definisi “nama asli?” Apakah nama asli Superman Clark Kent? Atau Kal-El? Atau justru, dia menganggap “nama aslinya” Superman?
Is Hartzel not your real name? / What’s your real name?
What even is a “real name”? Is Superman’s real name Clark Kent? Kal-El? Or does he refer “Superman” as his real name?
Profesi lu apa? Kerja apa? Main job-nya apa? (rs***, at***, nr***, pi***, se***)
Pekerjaan utama saya bukan ngonten. Sempat, terpikir untuk menjadikan ngonten pekerjaan utama, tapi setelah dipertimbangkan, tidak sepadan dengan apa yang perlu dikorbankan; waktu, privasi, kesehatan jiwa, dll. Saya juga sadar sebagai orang yang sangat tidak suka iklan, agak berat untuk hidup di industri tersebut.
What do you do? What’s your job? Your main job?
My main job isn’t making content. I did once consider making content the main thing, but after weighing it, it wasn’t worth what I’d have to give up: time, privacy, mental health, and so on. I also know that, as someone who really dislikes advertising, living inside that industry would be hard for me.
Background pendidikan/jurusan lu apa? Nyambung sama game yang lu bahas? (fi***, ag***, se***)
Background pendidikan tidak sepenuhnya selaras dengan apa yang dibahas, tapi masih beririsan. 🙂
What did you study? Does it connect to the games you talk about?
My education doesn’t line up completely with what I talk about, but there’s some overlap. 🙂
Rencana lu ga buka AdSense / endorse gimana, bang? (ra***)
Belum ada rencana. Saya masih ingin menjaga jarak dari itu selama mungkin, karena saya suka konten saya bebas iklan. Buat saya, iklan dan endorse itu menitipkan sebagian kendali konten ke pihak lain, sedangkan menjual produk buatan sendiri tidak. Jadi kalau nanti ada kebutuhan finansial, saya lebih memilih mencoba menjual produk digital sendiri, misalnya soal cara belajar bahasa atau cara saya menulis, daripada memasang iklan. Tertarik membeli? 🙂
What’s your plan around AdSense / sponsorships?
No plans. I want to keep my distance from that for as long as I can, because I like my content ad-free. To me, ads and sponsorships hand part of the control over your content to someone else; selling your own product doesn’t. So if I ever need the income, I’d rather try selling my own digital products, say, on how to learn a language or how I write, than run ads. Interested? 🙂
Kok jarang ngonten? Apa yang bikin lu sempet hiatus beberapa bulan ini? (_s***, ju***)
Belakangan memang menghentikan diri dulu untuk ngonten. Selama hiatus beberapa bulan tersebut, saya merefleksikan diri dari konten-konten yang pernah saya buat. Ternyata banyak yang saya sendiri tidak sukai. Melihat content creator lain pun, banyak sekali konten yang sifatnya pseudo-intelektualisme, alias konten yang dikemas rumit seolah cerdas dan berbobot padahal isinya dangkal, lebih mengejar kesan pintar daripada pemahaman yang sebenarnya. Ditambah lagi, banyak kreator yang memposisikan diri seolah mahatahu, seolah paham segala disiplin ilmu. Jadi, ke depannya saya tidak ingin lagi membahas konten dari disiplin ilmu tertentu. Saya juga tidak ingin memaksa upload hanya agar rutin. Konten tersebut biasanya jelek, dan menghilangkan asyiknya dari ngonten itu sendiri. Jadi saya lebih memilih menulis, dan memproduksi video hanya ketika saya ingin. Toh, tujuannya bukan untuk mencari kekayaan juga, kan? 🙂
Why do you post so rarely? What made you go on a months-long hiatus?
I did stop myself from posting for a while. During those months off, I looked back on the content I’d made, and realized I didn’t like a lot of it. Looking at other creators too, there’s so much pseudo-intellectual content, stuff dressed up to look clever and profound while the substance is thin, chasing the appearance of intelligence over actual understanding. On top of that, many creators position themselves as all-knowing, as if they understand every field. So going forward I don’t want to speak from any specific discipline anymore. I also don’t want to force uploads just to stay regular. That content is usually bad, and it strips away the fun of making it. So I’d rather write, and only make videos when I actually want to. The goal was never to get rich anyway, right? 🙂
Lu masih orang yang sama, kan? Konten baru kok kerasa beda. (ar***)
Masih orang yang sama 🙂
You’re still the same person, right? The new content feels different.
Still the same person. 🙂
Beneran mau ngonten di YouTube lagi dengan akun berbeda? (fl***)
Sudah berjalan, namun saya rasa belum waktunya migrasi atau memperkenalkan channel tersebut ke audiens ini. Saya ingin pertumbuhan yang organik, dari algoritma YouTube itu sendiri. 🙂
Are you really making YouTube content again under a different account?
Already underway, but I don’t think it’s time yet to migrate or introduce that channel to this audience. I want it to grow organically, from YouTube’s own algorithm. 🙂
Konten TikTok/Short bakal ada lagi? (as***)
Mungkin. Untuk saat ini, saya masih belum mau membuat konten pendek. Saya sendiri kurang nyaman dan sudah cukup melepaskan diri dari menonton video-video pendek seperti itu. (Hanya jika ada teman mengirim saja, dan maksimal 30 menit sehari.)
Will there be TikTok/Shorts again?
Maybe. For now I still don’t want to make short-form. I’m not comfortable with it, and I’ve stepped away from watching those short videos too. (Only when a friend sends one, and 30 minutes a day max.)
Ada rencana livestream lagi, bang? (ce***)
Belum dalam waktu dekat. Saya sedang membatasi hubungan diri saya dengan dunia luar.
Any plans to livestream again?
Not any time soon. I’m limiting my ties to the outside world right now.
Masih nulis di Medium, bang? Atau bakal pindah platform? (de***)
Tulisan panjang mulai sekarang ditulis di Substack (Beyond Default) https://substack.com/@byhartzel, dan blog https://hartzel.id untuk cerita-cerita yang lebih personal.
Still writing on Medium? Or moving platforms?
Long writing now goes on Substack (Beyond Default) https://substack.com/@byhartzel, and the blog https://hartzel.id for more personal stories.
Gimana progress pindah ke Linux, bang? (om***)
Jalan terus, dan semakin nyaman. Sudah tidak ada keinginan sama sekali untuk kembali ke Windows. Sesekali ada terbesit untuk punya Macbook lagi, tapi sebisa mungkin memaksimalkan alat-alat open source yang ada di Linux. 😀
How’s the switch to Linux going?
Going strong, and more comfortable every day. I have zero desire to go back to Windows. Every now and then the thought of owning a Macbook again crosses my mind, but I try to lean on the open-source tools Linux already has. 😀
Sempet keliatan main Threads kemarin, gimana rasanya nyoba Threads? (ha***)
Masih dipakai secukupnya saja… Sepertinya kurang sehat ya format media sosial seperti itu…
Saw you on Threads recently, how was trying it?
Still using it sparingly… That kind of social media format seems a bit unhealthy, doesn’t it…
Kenapa sekarang game collab ditaruh di sebelah kiri? (biasanya kiri game-nya, kanan collab) (Ba***)
Tidak mengerti maksud pertanyaannya…
Why are collab games now placed on the left? (usually the game on the left, the collab on the right)
I don’t quite get the question…
Kenapa video ep 1-5 (yang terakhir bahas AI) di-private? (ne***)
Hmm, saya cukup suka keindahan dan saya rasa video-video tersebut kurang indah. Setelah dipikir-pikir, video tersebut juga terlalu memperlihatkan sisi emosional saya. Haha, inilah pentingnya jika kamu menunggah konten di internet, untuk rehat sesekali dan merefleksikan apa yang kamu unggah…
Why are episodes 1-5 (the last ones about AI) set to private?
Hmm, I’m quite fond of things being beautiful, and I feel those videos fell short of that. Thinking about it more, they also exposed too much of my emotional side. Haha, this is exactly why, when you post things online, it matters to step back once in a while and reflect on what you’ve put out…
Apa yang bikin punya blog terasa tetap relevan sampai sekarang? (ok***)
Saya tidak membuat blog untuk ditemukan atau untuk relevan. Murni untuk mengeluarkan isi hati dan/atau pikiran yang lebih terstruktur. Alasannya membuat blog di website sendiri, seperti di sini adalah untuk memiliki sepenuhnya apa yang milik saya. Mengunggah foto di Instagram dikenakan batas resolusi dan jumlah karakter yang terbatas. Namun, mengunggah foto-foto atau cerita di blog, sepenuhnya dalam kendali saya sendiri. 🙂
What keeps having a blog feeling relevant to this day?
I don’t keep a blog to be found or to stay relevant. Purely to get out what’s in my heart and/or a more structured version of my thoughts. The reason I keep it on my own site, like here, is to fully own what’s mine. Posting photos on Instagram means resolution caps and character limits. But posting photos or stories on my own blog is entirely under my control. 🙂
Motivasi lu saat ini apa, bang? (il***)
Tidak ada. Hidup nyaman, sedikit lebih baik dari hari kemarin, tidak perlu muluk-muluk berambisi punya api yang berkobar dan “lapar”. Memaksimalkan alat-alat yang tersedia, melakukan apa yang saya suka, dan jika bisa beririsan untuk membantu di sekitar dan mendapatkan penghasilan, maka saya akan bahagia. Mungkin kurang lebih prinsip Ikigai, ya?
What’s your motivation right now?
None. Life’s comfortable, a little better than yesterday, no need for grand ambition or some roaring, “hungry” fire. Making the most of the tools I have, doing what I love, and if it happens to overlap with helping those around me and earning a little, I’ll be happy. Roughly the idea of Ikigai, I suppose?
Boleh share proses bikin strategi brand Hartzel? (sy***)
Boleh, tapi itu bahasan panjang dan lebih pas dibahas terpisah. Intinya, saya mulai dari “kenapa”-nya dulu: untuk siapa saya menulis, dan apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan. Baru setelah itu turun ke bentuknya, mulai dari cara bicara, gaya visual, sampai jenis kontennya. Yang jelas, semuanya saya rancang dulu di atas kertas sebelum bikin satu konten pun. Detailnya biar jadi bahan tulisan tersendiri kapan-kapan, ya. 🙂
Can you share the process of building the Hartzel brand strategy?
Sure, but that’s a long topic, better on its own. In short, I start from the “why” first: who I’m writing for, and what I actually want to say. Only then do I move to the form, from the way it speaks, to the visual style, to the type of content. What’s certain is I map it all out on paper before making a single piece. I’ll save the details for a separate write-up someday. 🙂
Rencana mau ngapain aja di sisa tahun ini? (ma***)
Merapikan dua channel YouTube, lebih giat menulis di Substack (terkadang lupa, dan pikiran acak hilang begitu saja), dan mengurangi konten yang sifatnya reaktif.
What are your plans for the rest of the year?
Tidying up two YouTube channels, writing on Substack more consistently (I sometimes forget, and random thoughts just vanish), and cutting down on reactive content.
2. Produktivitas, Konsistensi & Kreativitas — Productivity, Consistency & Creativity

Ricoh FX-30 Super, Fujifilm 400 Color Negative.
Gimana cara lu tetap produktif? Ada cara bikin gim malah ngedorong produktivitas kita? (ma***)
Menurut saya tidak ada satu cara yang bisa cocok di semua orang. Saya sendiri berhenti mencoba menjadi produktif, dan melakukan sesuatu ketika ada dorongan dari hati, tanpa menundanya. Sejauh ini bekerja dengan baik, daripada memaksakan diri untuk menjadi produktif, yang hanya bertahan beberapa minggu saja.
How do you stay productive? Is there a way to make games actually drive our productivity?
I don’t think any single method fits everyone. I stopped trying to be productive myself, and just do things when the urge comes from within, without putting them off. So far that works better than forcing productivity, which only lasts a few weeks.
How’s your screen time? Masih digital minimalism? Aku udah coba tapi susah konsisten. (lu***)
Masih sangat aman. Bahkan sekarang saya kembali menginstall Instagram pun, hanya dipakai satu sampai dua sesi dalam sehari, dengan maksimal satu sesi 15-30 menit. Akan lebih mudah konsisten jika hanya membatasi screen time, hapus secara total!
How’s your screen time? Still doing digital minimalism? I’ve tried but it’s hard to stay consistent.
Still very much in check. Even now that I’ve reinstalled Instagram, I only use it one or two sessions a day, 15-30 minutes per session max. It’s easier to stay consistent if, rather than merely limiting screen time, you delete it entirely!
Tutorial biar konsisten. (al***)
Apakah yang dimaksud konsisten seperti “upload video satu minggu sekali”? Jika iya, saya tidak konsisten, dan merasa tidak perlu. Bahkan, saya merasa diri lebih produktif ketika berhenti berusaha produktif, berhenti berusaha konsisten. Saya mengibaratkannya seperti pohon yang ditanam akan tumbuh dengan sendirinya. Memaksakan menambah pupuk atau menyiram air terus-menerus hanya akan merusaknya. Begitu pula hidup: jika haus seperti pohon yang butuh air, kita akan minum; jika lapar seperti pohon yang butuh pupuk, kita akan makan. Ketika saya tidak lagi memaksakan diri membersihkan kamar setiap pagi, terkadang tiba-tiba hati kecil saya sendiri yang memberi sinyal untuk membersihkan kamar. Saya lebih suka memanfaatkan sinyal itu untuk melakukan sesuatu, sebelum sinyalnya menghilang. 🙂
A tutorial on staying consistent.
Do you mean consistent like “upload a video once a week”? If so, I’m not consistent, and I don’t feel the need to be. In fact I feel more productive once I stop trying to be productive, stop trying to be consistent. I picture it like a planted tree that grows on its own. Forcing extra fertilizer or constant watering only harms it. Life is the same: when we’re thirsty like a tree that needs water, we drink; when we’re hungry like a tree that needs fertilizer, we eat. Once I stopped forcing myself to clean my room every morning, sometimes my own small inner voice suddenly signals me to clean it. I’d rather use that signal to do something, before it fades. 🙂
Gimana cara gue nuangin mindset kayak lu ke tiap konten? Konteksnya gue ilustrator yang mulai burnout karena hobi berubah jadi kerjaan/”bisnis”. (hh***)
Jika saya jadi kamu, saya tidak akan berhenti menjadi ilustrator komersil. Yang akan saya lakukan, memisahkan ilustrasi menjadi dua ember. Saya akan memisahkan ilustrasi untuk kepuasan batin dengan gaya yang berbeda, atau yang baru, yang saya bisa eksplor, tanpa ada tekanan bagus atau jelek. Saya juga tidak akan menargetkan ilustrasi tersebut untuk diperjualbelikan, atau bahkan tidak diperjualbelikan sama sekali. Mungkin, alternatif lainnya adalah menambah hobi yang masih dekat dengan ilustrasi.
Tapi benar, saya pernah membaca bahwa kreativitas itu seperti spons: dia butuh waktu untuk menyerap air, dan tidak bisa terus-menerus diperas. Itu mengapa, menurut saya, menambah hobi lain bisa memberi air untuk spons tersebut sehingga semakin banyak ide yang bisa lahir.
How do I pour a mindset like yours into every piece I make? I’m an illustrator burning out because a hobby turned into work/”business”.
If I were you, I wouldn’t quit being a commercial illustrator. What I’d do is split illustration into two buckets. I’d set aside illustration for inner satisfaction, in a different or new style I can explore, with no pressure of good or bad. I also wouldn’t aim that illustration to be sold, or maybe not sell it at all. Another alternative might be picking up a hobby that’s still close to illustration.
But it’s true, I once read that creativity is like a sponge: it needs time to soak up water, and can’t be wrung out endlessly. That’s why, to me, picking up another hobby can give that sponge water, so more ideas can be born.
3. Bahasa, Korea/Luar Negeri & Rencana Pribadi — Language, Korea/Abroad & Personal Plans

Ricoh FX-30 Super, Fujifilm 400 Color Negative.
Kenapa lu memutuskan belajar bahasa Korea? Kenapa musti bahasa Korea? (af***, ai***)
Entahlah, mungkin karena aksara Korea (Hangeul) sangat mudah untuk dipelajari, sehingga terjun kedalamnya terasa lebih mudah juga? Saya juga paling tertarik dengan sejarah Korea (dari jaman kerajaan hingga kontemporer), sehingga bisa menelusuri drama-drama epik kolosal Korea sembari mempelajari bahasanya juga. Jika kamu tanya kenapa, silakan baca-baca atau tonton sejarah dinasti Joseon, cerita Admiral Yi Sun-sin, atau Perang Korea. Cukup rumit untuk menjadi menarik, tapi tidak terlalu rumit sehingga membingungkan.
Why did you decide to learn Korean? Why Korean specifically?
Not sure, maybe because the Korean script (Hangeul) is very easy to learn, so diving in feels easier too? I’m also most drawn to Korean history (from the dynastic era to the contemporary), so I get to trace those grand, epic Korean dramas while learning the language. If you’re asking why, go read or watch about the Joseon dynasty, the story of Admiral Yi Sun-sin, or the Korean War. Complicated enough to be interesting, but not so complicated it’s confusing.
Kenapa lu milih pakai “lingo” bang? (ra***)
Maksudnya aplikasi Lingo untuk belajar bahasa, kan? Saat itu saya rasa aplikasi tersebut cukup menyenangkan untuk belajar kosakata baru, meskipun sekarang sudah tidak saya gunakan, haha. Sekarang saya murni pakai Anki. Alasan lain saya tidak memakai Duolingo dan semacamnya adalah penggunaan AI yang tidak perlu dan tidak akurat.
Why did you choose to use “Lingo”, bro?
You mean the Lingo app for learning languages, right? At the time I found it fun enough for picking up new vocabulary, though I don’t use it anymore, haha. Now I use Anki exclusively. Another reason I don’t use Duolingo and the like is their unnecessary and inaccurate use of AI.
Bang lu ke Jepang itu dalam rangka kerja atau kuliah? (xa***)
Sepertinya kamu salah lihat, ya. 🙂
Your trip to Japan, was it for work or study?
I think you’ve got the wrong idea. 🙂
Masih di Korea, bang? (al***)
Saya tidak tahu kapan kamu akan membaca ini.
Still in Korea?
I don’t know when you’ll be reading this.
Plus minus kerja di Korea, bang? (ze***)
Menurut saya, plus minus suatu pekerjaan itu lebih tergantung pada perusahaan dan atasannya daripada negaranya. Bagaimana rasanya kerja di perusahaan asing, atau di startup, adalah stereotip yang tidak bisa digeneralisir. Jadi saya tidak bisa menjawabnya sebagai satu jawaban pasti.
Pros and cons of working in Korea?
To me, a job’s pros and cons depend more on the company and the boss than on the country. What it’s like to work at a foreign company, or at a startup, is a stereotype that can’t be generalized. So I can’t give you one definite answer.
Cara work abroad gimana setelah nguasain bahasanya? Ada roadmap-nya? (hs***)
Saya kurang tepat untuk menjawab ini, karena jalur tiap orang berbeda-beda dan pengalaman saya belum tentu bisa jadi patokan. Yang jelas, menguasai bahasa itu salah satu syarat. Setelahnya masih ada soal skill, jalur visa yang legal, dan dana untuk bertahan hidup.
How do you actually work abroad after mastering the language? Is there a roadmap?
I’m not the right person to answer this, because everyone’s path differs and my experience won’t necessarily be a benchmark. What’s clear is that mastering the language is one requirement. After that there’s still skill, a legal visa route, and enough money to live on.
Di umur yang udah 30-an masih belajar bahasa Inggris/Korea biar bisa hidup di luar, worth it nggak? (e.***)
Setelah saya berkenalan dengan berbagai macam orang di dunia, saya rasa hanya Indonesia yang punya banyak kata “terlambat untuk belajar” “terlambat untuk menikah” “terlambat untuk bekerja”. Jadi jawabannya, mungkin telat di mata lingkunganmu saja.
At 30-something, still learning English/Korean to live abroad, is it worth it?
After meeting all kinds of people around the world, I feel only Indonesia has so many phrases like “too late to learn”, “too late to marry”, “too late to work”. So the answer is: maybe it’s only late in the eyes of the people around you.
Apa kabar, bang? How’s life? Keep the spirit, take care, jangan overwork. (bu***, pa***, dan lainnya)
Terima kasih, kabar baik :).
How are you? How’s life? Keep the spirit, take care, don’t overwork.
Thank you, I’m well. 🙂
4. Soal Game — On Games

Cyberpunk 2077 Photo Mode. , Cyberpunk 2077: Phantom Liberty, directed by Gabriel Amatangelo (CD Projekt Red, 2023).
Game favorit lu dan alasannya? Game yang sekarang paling sering lu mainin apa? (ja***, la***, ze***, “game favorit abang”)
Mungkin yang agak belakangan Cyberpunk 2077. Menurut saya, game ini punya ideal yang cocok dengan saya. Pesan yang ingin disampaikan benar-benar tersampaikan dengan baik. Dari segi alur permainan pun menurut saya tidak muluk-muluk, tidak banyak gimik, tapi semuanya disajikan dengan sangat baik. Sayang saja, saat rilis game ini tidak rilis dengan kondisi sebagaimana mustinya. Selain Cyberpunk 2077, game yang belakangan ini mengikat hati saya adalah Baldur’s Gate 3. Game yang menjadi saingan Cyberpunk 2077 di Game Awards. Menurut saya, lagi-lagi, tidak ada yang benar-benar spektakuler dari game ini. Namun, saya suka mencoba berbagai macam role play dan kemungkinan yang bisa terjadi, di setiap permainan. Hmm, jika game-game yang lebih lama, Persona 4 Golden masih meninggalkan bekas di hati saya. Mungkin karena ceritanya yang terasa dekat, dan mengingatkan dengan kenangan manis di sekolah. Kebetulan, saat pertama kali saya bermain Persona 4 (PS2), masih di bangku sekolah juga. Selain itu, game yang memorinya cukup penuh di kepala saya adalah GTA: San Andreas. Dulu, saya cukup beruntung bisa memiliki PS2 dan memilki teman-teman yang juga memiliki PS2. Sebagian teman-teman yang tinggal dekat rumah juga, apalagi yang tidak punya PS2, sering berkunjung untuk bermain bersama. Oleh karena itu, percakapan di sekolah, bahkan dengan saudara pun, tidak jauh dari game ini. Akan tetapi, jika kamu tanya game yang secara objektif menurut saya sempurna: The Legend of Zelda: Breath of The Wild.
Your favorite game and why? What do you play most these days?
Probably, more recently, Cyberpunk 2077. To me, this game holds an ideal that fits me. The message it wants to convey really lands. Even the gameplay, I think, isn’t overblown, not full of gimmicks, yet everything is presented very well. It’s just a shame it didn’t launch in the state it should have. Besides Cyberpunk 2077, a game that’s tied itself to my heart lately is Baldur’s Gate 3, the one that rivaled Cyberpunk 2077 at the Game Awards. Again, I don’t think anything about it is truly spectacular. But I love trying all sorts of role play and the possibilities that can unfold in each playthrough. Hmm, for older games, Persona 4 Golden still left a mark on me. Maybe because its story felt close, and reminded me of sweet school memories. As it happens, when I first played Persona 4 (PS2), I was still in school too. Another game that fills a good chunk of my memory is GTA: San Andreas. Back then, I was lucky enough to own a PS2 and to have friends who did too. Some who lived nearby, especially those without a PS2, often came over to play together. So conversations at school, even with relatives, were never far from this game. But if you ask which game I find objectively perfect: The Legend of Zelda: Breath of the Wild.
Dari semua franchise Yakuza / Like a Dragon, paling suka yang mana? (gi***)
Mungkin Yakuza 0? Entahlah, saya belum memainkan semua seri Yakuza / Like a Dragon.
Of all the Yakuza / Like a Dragon franchise, which is your favorite?
Maybe Yakuza 0? I’m not sure, I haven’t played every Yakuza / Like a Dragon title.
Main GTA IV sama EFLC nggak? Ada opini soal game itu? (tu***)
Saya main GTA IV. Opininya: bagus.
Did you play GTA IV and EFLC? Any opinion on it?
I played GTA IV. My opinion: good.
Lebih suka game competitive atau game story, bang? (ir***)
Mungkin kita harus buat dikotominya bukan game kompetitif atau game cerita, karena ada game-game single player yang tidak ada storynya (misal: Balatro). Tapi ya, beruntungnya saya sadar sejak lama jika yang saya sukai dari “game competitive” adalah interaksinya dan strateginya. Interaksi bisa saya dapatkan di game multiplayer lain, atau bahkan di luar game. Strategi ada di banyak sekali game singleplayer. Maaf, jawabannya terlalu panjang. Saya lebih suka game singleplayer. Ada berbagai alasan, tapi saya lebih suka suatu game yang sudah “selesai”.
Do you prefer competitive or story games?
Maybe the dichotomy shouldn’t be competitive versus story, since there are single-player games with no story (e.g. Balatro). But yes, luckily I realized long ago that what I like about “competitive games” is the interaction and the strategy. Interaction I can get in other multiplayer games, or even outside games. Strategy exists in tons of single-player games. Sorry, the answer got too long. I prefer single-player. There are various reasons, but mostly I prefer a game that’s already “finished”.
Civ 5 masih recommend nggak? (fe***)
Saya tidak menemukan alasan kenapa Civilization V bisa kehilangan status recommendednya, kecuali harganya naik 100 kali lipat atau mereka membuat remastered / remake yang lebih baik…
Is Civ 5 still recommended?
I can’t find a reason why Civilization V would lose its recommended status, unless its price went up a hundredfold or they made a better remaster/remake…
Excited sama GTA 6 nggak? PO nggak? (fi***, yu***)
Biasa saja. Saya juga tidak suka pre-order untuk sesuatu yang belum jelas wujudnya. Jika nanti ada budget dan tertarik maka akan beli, jika tidak tertarik tidak akan beli. Menurut hemat saya, tidak ada yang bijaksana dari membeli produk saat baru rilis (apalagi saat belum rilis), kecuali untuk ditimbun, yang juga menurut saya, tidak bijaksana.
Excited for GTA 6? Pre-ordering?
Not really. I also don’t like pre-ordering something whose form isn’t clear yet. If there’s budget later and I’m interested, I’ll buy it; if not, I won’t. In my humble view, there’s nothing wise about buying a product at launch (let alone before launch), except to hoard/resell, which I also think isn’t wise.
Ada rekomendasi game, bang? (le***)
Tidak. 🙂 Saya lebih suka kalau kamu menemukan sendiri game yang cocok dengan seleramu, karena rekomendasi saya belum tentu cocok dengan selera kamu.
Any game recommendations?
No. 🙂 I’d rather you find the games that fit your own taste yourself, because my recommendation won’t necessarily match yours.
Cara lepas dari game kompetitif gimana ya, bang? (l.***)
Uninstall, logout, lalu cari penggantinya. Dopamin dari “menang ranked”, “naik rank”, dan lain sebagainya, ganti dengan dopamin “menamatkan cerita”, “role play”, dan lain-lain. Saya juga dulu sangat terikat dengan game kompetitif, apalagi karena semua teman saya main. Saya tidak ingin ketinggalan ketika teman-teman saya naik rank bersama-sama dan punya obrolan tertentu. Ternyata, jika mereka memang teman, kamu tidak ikut bermainpun akan diceritakan obrolan tersebut di luar sesi kompetitif. Percayalah, game kompetitif memang didesain untuk seadiktif mungkin.
How do I break away from competitive games?
Uninstall, log out, then find a replacement. Swap the dopamine of “winning ranked”, “climbing rank”, and so on, for the dopamine of “finishing a story”, “role play”, and the like. I too used to be very hooked on competitive games, especially since all my friends played. I didn’t want to be left out when my friends climbed rank together and had their own inside jokes. Turns out, if they’re real friends, even if you don’t play, they’ll fill you in on that talk outside the competitive sessions. Trust me, competitive games really are designed to be as addictive as possible.
Kalau main RE atau game story lain, gue pengen cepet-cepet selesai. Saran? (zf***)
Saya juga seperti kamu belum lama, mungkin 2-3 tahun yang lalu. Saya menemukan penyebabnya untuk diri saya sendiri dua:
1. Saya ingin segera mencoba atau memainkan game lain.
2. Saya tidak suka dengan gamenya, tapi sayang jika tidak ditamatkan.
Jika alasan kamu bukan keduanya, maka coba pikirkan apa alasannya. Saya sendiri, semenjak tidak peduli dengan game keluaran terbaru, saya memainkan Cyberpunk 2077 dua kali, dan memainkan Baldur’s Gate 3 hampir empat kali. Saya sadar, setiap bulan akan selalu ada game baru yang rilis yang lebih menarik. Akan tetapi, saya juga sadar, jika saya membuang-buang waktu memainkan game yang saya rasa sudah tidak saya nikmati, lebih baik saya memainkan game yang lain. Salah satu contohnya adalah Horizon: Zero Dawn. Saya tidak cocok dengan permainannya, namun penasaran dengan ceritanya. Pada akhirnya, saya membaca saja lore dan alurnya di wiki.
When I play RE or other story games, I want to rush to the end. Any advice?
I was like you not long ago, maybe 2-3 years back. I found two causes for myself:
1. I wanted to quickly try or play another game.
2. I didn’t like the game, but felt bad not finishing it.
If your reason is neither, try to figure out what it is. For me, ever since I stopped caring about the latest releases, I’ve played Cyberpunk 2077 twice, and Baldur’s Gate 3 almost four times. I know there’ll always be a newer, more interesting game every month. But I also know that if I waste time playing a game I no longer enjoy, I’m better off playing something else. One example is Horizon: Zero Dawn. The gameplay didn’t click with me, but I was curious about the story. In the end, I just read the lore and plot on the wiki.
Gimana caranya biar bisa nikmatin main game lama? Udah beli kursi ergonomis, tapi abis 1-2 jam malah pengen rebahan. (ne***)
Kabar baiknya berarti kamu tahu masalahnya bukan di kursi. Apa alasan ingin rebahan? Doomscrolling? Mengantuk? Gamenya membosankan? Saya rasa jika kamu tahu alasan mengapa kamu ingin rebahan, masalahnya dapat lebih mudah diatasi.
How do I enjoy long gaming sessions? I bought an ergonomic chair, but after 1-2 hours I just want to lie down.
The good news is you already know the problem isn’t the chair. What’s the reason you want to lie down? Doomscrolling? Sleepy? The game’s boring? I think once you know why you want to lie down, the problem gets much easier to solve.
Cara nikmatin main game tanpa mikirin beban? (an***)
Beban dari dalam game atau dari luar?
Jika asalnya dari dalam game itu sendiri, mungkin karena kamu memperlakukan game seperti to-do list: harus tamat, harus sempurna, harus sepadan sama harganya. Buang dulu semua “harus” itu. Main tanpa target apa-apa, kecuali target kesenangan yang kamu tentukan sendiri. Matikan atau bahkan drop saja jika bosan.
Jika berasal dari luar game, maka, dua pertanyaan. Apakah ada yang bisa kamu lakukan untuk mengurangi atau menghilangkan beban tersebut? Jika iya, lakukan. Jika tidak, untuk apa dipikirkan?
How do I enjoy games without overthinking the burden?
Is the burden from inside the game, or outside it?
If it comes from the game itself, maybe you’re treating the game like a to-do list: must finish, must be perfect, must be worth the price. Drop all those “musts” first. Play with no target at all, except the target of enjoyment you set yourself. Turn it off, or even drop it, if you’re bored.
If it comes from outside the game, then two questions. Is there anything you can do to reduce or remove that burden? If yes, do it. If not, why think about it?
Gimana nikmatin game yang lore-nya ditaruh di item/artefak kayak Tomb Raider? Gue burnout nyari item + nyusun potongan ceritanya, apalagi nggak ada sub Indo. (na***)
Caranya: kamu harus sadar kalau kamu tidak wajib mengumpulkan segalanya. Desain seperti itu dibuat untuk orang yang suka menggali lore lebih dalam. Mungkin kita satu tipe. Saya lebih suka ambil yang dilewati secara natural, dan meninggalkan yang tidak menarik. Jika kemudian ada yang penasaran, saya akan cari jawabannya di internet, haha. Soal bahasa, ini bisa jadi kesempatan kamu belajar Bahasa Inggris. Telan saja dulu ceritanya secara garis besar, detail lore biasanya lama-kelamaan bisa disadari setelah seluruh ceritanya sudah tersampaikan, dan mungkin membaca-baca forum setelah tamat. 🙂
How do I enjoy a game whose lore is scattered across items/artifacts like Tomb Raider? I burn out hunting items and piecing the story together, and there are no Indonesian subs.
The way: you have to realize you’re not obligated to collect everything. That design is made for people who love digging deeper into lore. Maybe we’re the same type. I prefer to take what I pass naturally and leave what isn’t interesting. If I get curious later, I’ll look it up online, haha. As for language, this could be your chance to learn English. Just swallow the broad story first; the finer lore usually clicks over time once the whole story has landed, and maybe by browsing forums after you finish. 🙂
Gue dari dulu nggak bisa betah main MOBA kayak Dota 2, itu kenapa ya? (lo***)
Wajar. Sama seperti olahraga, ada yang lebih suka olahraga dengan ritme yang cepat seperti basket, ada juga yang suka ritme lambat seperti billiard. Ada yang lebih suka ketangkasan strategi seperti catur, ada yang lebih suka ketangkasan tubuh seperti tinju. Mengapa harus bisa betah bermain MOBA? 🙂
I’ve never been able to get into MOBAs like Dota 2, why is that?
That’s normal. Like sports, some prefer a fast rhythm like basketball, others a slow one like billiards. Some prefer strategic dexterity like chess, others physical dexterity like boxing. Why must you be able to enjoy MOBAs? 🙂
Tips beli game yang cocok sama selera sendiri, mulai dari apa? (rh***)
Mengenali diri sendiri. Tarik mundur ke belakang, apa yang kamu suka dan apa yang tidak kamu suka? Hindari jika memang sudah tahu tidak akan suka, dan pilih jika mirip dengan yang kamu suka. Coba tipe game baru yang belum pernah kamu tahu suka atau tidak sukanya. Lakukan itu cukup lama, dan kamu akan menemukan game-game yang memang cocok untuk selera kamu sendiri.
Tips for buying games that fit your own taste, where do you start?
Knowing yourself. Pull back and look: what do you like, and what don’t you? Avoid it if you already know you won’t like it, and pick it if it’s close to what you do like. Try new types of games you don’t yet know whether you’ll like. Do that long enough, and you’ll find the games that truly fit your own taste.
Gimana cara ngatasin nyesel beli game yang ternyata nggak seseru kata orang? (to***)
Pertama, terima bahwa “seru kata orang” itu selera mereka, bukan garansi bahwa game tersebut akan bagus. Penyesalan biasanya datang karena beli untuk ikut-ikutan, bukan buat diri sendiri. Kedepannya, tunda beli sampai rasa menggebu-gebunya reda, dan coba jujur dan nilai sendiri. Jika udah dibeli, refund jika masih bisa, atau anggap itu ongkos belajar :). Tidak semua game akan cocok untuk semua orang.
How do I deal with regretting a game I bought that turned out not as fun as others said?
First, accept that “fun, according to others” is their taste, not a guarantee the game will be good. Regret usually comes from buying to follow the crowd, not for yourself. Going forward, delay buying until the fervor dies down, then be honest and judge for yourself. If you’ve already bought it, refund if you still can, or treat it as tuition. 🙂 Not every game will suit everyone.
Kenapa game gratis sering lebih rewarding daripada yang bayar? Gue sadar excitement game yang gue beli memuncak pas mau “beli”-nya doang. (pa***)
Antisipasi. Puncak kesenangannya sering terjadi di momen ketika “akan memiliki”, dan sesaat setelah memiliki. Game bayar menumpuk ekspektasi yang sudah kamu bangun sendiri sebelum bermain, jadi begitu dimainkan sering terasa tidak sesuai ekspektasi.
Why do free games often feel more rewarding than paid ones? I notice the excitement of a game I bought peaks right when I’m about to “buy” it.
Anticipation. The peak of the pleasure often happens at the moment of “about to own”, and just after owning. Paid games pile up expectations you built yourself before playing, so once you actually play, it often falls short of them.
Game AAA mahal tapi durasinya singkat/kurang memuaskan, berapa lama durasi ideal dibanding harganya? (Ga***)
Kesalahan yang saya pelajari adalah jangan coba merumuskan atau mengkalkulasikan rasa senang. Bagi orang yang sudah kehilangan orang yang dikasihinya, mengeluarkan uang besar hanya untuk bertemu hanya 1 jam, mungkin akan terasa sebanding dengan harganya. Jika besok kamu mencapai suatu pencapaian, dan mendapatkan kejutan berupa kue dari orang yang kamu sayangi, apakah kamu akan bertanya “ini menggunakan krim apa?” “ini dibuat berapa jam?” tentu tidak. Game dengan durasi 14 jam namun padat dengan cerita yang spektakuler akan lebih berharga dari game 60 jam yang isinya repetitif dan biasa saja, bukan?
Expensive AAA games with short/unsatisfying runtimes, what’s the ideal length relative to price?
A mistake I’ve learned: don’t try to formulate or calculate joy. For someone who has lost a loved one, spending a lot just to meet them for one hour might feel worth the price. If tomorrow you reach some milestone and get a surprise cake from someone you love, would you ask “what cream is this?” “how many hours did it take?” Of course not. A 14-hour game packed with a spectacular story is worth more than a 60-hour one that’s repetitive and ordinary, isn’t it?
Sub-genre RPG yang jarang kesorot? (al***)
Menurut saya, genre adalah konsep yang sudah tidak bisa dijadikan acuan dalam dunia game. Genre dalam dunia game seringkali digunakan untuk mendeskripsikan mekanisme dari suatu game, daripada pengalaman game tersebut (sebagaimana genre dalam musik, novel, maupun film). Oleh karena itu, seringkali genre merepresentasikan hal yang salah untuk melabeli suatu game, karena seringkali dalam game ada percampuran mekanisme satu dengan yang lainnya. RPG misalnya, dapat diasumsikan terdapat stats points dalam permainan. First person shooter, contoh lainnya, adalah genre dimana kita menggunakan sudut pandang orang pertama dalam game tembak-menembak. Lalu jika kita bermain Fallout dengan sudut pandang orang pertama, apakah sub-genrenya menjadi FPS RPG? Belum tentu. Fallout modern lebih tepat disebut Open World Action RPG. Tentu, pendapat tersebut pun dapat disanggah. Berapa banyak orang memperdebatkan genre pada suatu game?
An RPG sub-genre that rarely gets the spotlight?
To me, genre is a concept that can no longer serve as a reference in games. Genre in games is often used to describe a game’s mechanics rather than its experience (unlike genre in music, novels, or film). Because of that, genre often mislabels a game, since games frequently blend one mechanic with another. RPG, for instance, can be assumed to have stat points. First-person shooter, another example, is a genre where we use a first-person view in a shooting game. So if we play Fallout in first-person, does its sub-genre become FPS RPG? Not necessarily. Modern Fallout is more accurately called an Open World Action RPG. Of course, that opinion can be argued too. How many people really debate a game’s genre?
Mulai dari sini agak keluar dari materi FAQ, lebih ke soal teknis dan industri game. Tapi karena ditanya, tetap saya jawab. 🙂
From here on it drifts a bit outside FAQ territory, more into technical and game-industry questions. But since you asked, I’ll answer anyway. 🙂
Rockstar jual GTA 6 edisi $100 “Ultimate” yang katanya baru base game utuh, sementara Standard sengaja dipotong konten krusial biar keliatan “murah”. Ini solusi atau bad precedent buat industri? (Ad***)
Saya menjauhkan diri saya untuk tidak peduli dengan berita-berita di dunia game. Seperti pada pertanyan sebelumnya, jika suka saya akan beli, jika tidak, saya bisa cari game lain. 🙂
Rockstar selling a $100 “Ultimate” GTA 6 edition that’s supposedly the only complete base game, while the Standard edition is deliberately cut of crucial content to look “cheap”. Solution, or bad precedent for the industry?
I keep myself from caring about news in the gaming world. Like the earlier question, if I like it I’ll buy it; if not, I can find another game. 🙂
Sony/PlayStation stop produksi disc fisik, gimana pendapat lu? (ra***, al***, ed***, du***, iz***)
Untuk saya pribadi, saat ini saya memang tidak tertarik membeli PlayStation maupun game di dalamnya. Praktik bisnis seperti itu tidak mengejutkan untuk perusahaan seperti mereka. Kalau kamu tidak suka, salah satu cara paling sederhana ya tidak membeli produk mereka, seperti yang saya lakukan.
Sony/PlayStation stopping physical disc production, what’s your take?
For me personally, I’m currently not interested in buying a PlayStation or its games at all. Business practices like that are not surprising for companies like them. If you don’t like it, one of the simplest ways is to just not buy their products, like I do.
Wajar nggak konsol sekarang niadain disc fisik dengan alasan digitalisasi & nekan harga? (Ga***)
Lihat jawaban Sony di atas. Jika kamu suka beli disc atau barang fisik, maka belilah. Jika kamu ingin menentang peniadaan bentuk fisik, bisa kamu suarakan; email mereka, buat kampanye, atau yang saya lakukan, tidak perlu beli produk mereka. 🙂
Is it fair for consoles to drop physical discs, citing digitalization & lower prices?
See the Sony answer above. If you like buying discs or physical goods, then buy them. If you want to oppose the removal of physical formats, you can voice it: email them, start a campaign, or what I do, just don’t buy their products. 🙂
Wajar nggak konsol mewajibkan online tiap kali main, padahal game-nya offline? (Ga***)
Tidak. Usaha pencegahan pembajakan seperti ini, menurut saya tidak ada gunanya. Jika orang tidak ingin membeli game Anda (dan lebih memilih untuk bermain bajakan), memaksakan orang untuk bermain online tidak akan membujuk pasar untuk membeli game tersebut.
Is it fair for a console to require being online every time you play, even for offline games?
No. Anti-piracy efforts like this are, to me, pointless. If people don’t want to buy your game (and prefer to pirate it), forcing them to play online won’t persuade the market to buy it.
Pendapat lu tentang Steam Machine? (za***)
Idenya menarik.
Your take on the Steam Machine?
The idea is interesting.
Komponen kayak RAM, SSD dll bakal turun harga lagi nggak? Sekarang sampai HP kena dampak. (ju***)
Tidak tahu, saya bukan analis pasar.
Will components like RAM, SSD, etc. drop in price again? It’s even affecting phones now.
I don’t know, I’m not a market analyst.
Naiknya harga komponen hardware & upah pekerja, masuk akal nggak naikin harga game tinggi? (Ga***)
Masuk akal-masuk akal saja… Jika harga terlalu tinggi lalu tidak ada yang membeli, pada akhirnya akan mereka turunkan juga bukan?
With rising hardware component costs & wages, does it make sense to raise game prices high?
It makes sense enough… If the price is too high and nobody buys, they’ll lower it in the end, won’t they?
Marak game “early access” di Steam, apa developer nggak mentingin game-nya mateng dulu baru rilis? (Ga***)
Early access itu netral. Tujuannya sendiri untuk studio kecil yang butuh dana dan feedback. Sesimpel itu. Apakah kamu mau dukung early access dari developer, atau siap ditinggal kabur sebelum selesai gamenya; adalah alasan mengapa game-game tersebut dilabeli dan diberitahu di awal bahwa game ini berstatus “early access.”
Early access is everywhere on Steam, don’t developers care about a game being mature before release?
Early access is neutral. Its purpose is for small studios that need funding and feedback. That simple. Whether you want to support a developer’s early access, or risk being abandoned before the game is done, is exactly why these games are labeled and announced upfront as “early access.”
Kenapa developer/publisher promosiin game di game fest tapi nggak jadi rilis? Mereka nggak peduli reputasi? (Ga***)
Menguji minat pasar dan menarik investor. Anggap saja kamu pitching suatu proyek. Bisa jadi proyeknya beneran mati karena pasar kurang tertarik, atau kurang dana, atau bisa jadi lanjut. Entahlah.
Why do developers/publishers promote games at game fests but never release them? Don’t they care about their reputation?
Testing market interest and attracting investors. Think of it as pitching a project. The project might genuinely die because the market wasn’t interested, or funding fell short, or it might carry on. Who knows.
Kenapa game online bisa mati? Prediksi kapan Mobile Legends bakal mati? (ma***)
Game online bisa mati karena biaya menjalankan game tersebut lebih besar daripada uang yang masuk. Lagi-lagi, jika kamu tanya kenapa seseorang bisa meninggal, alasannya bermacam-macam bukan? Namun pada intinya, organ vital berhenti bekerja. Game online juga begitu, bisa jadi terjerat hukum, korupsi di dalam perusahaan, entahlah.
Saya tidak tahu, dan tidak punya prediksi kapan Mobile Legends akan mati. Memainkan atau memperhatikan gamenya saja tidak.
Why do online games die? Any prediction of when Mobile Legends will die?
Online games can die when the cost of running them exceeds the money coming in. Again, if you ask why a person dies, the reasons vary, right? But at the core, vital organs stop working. Online games are the same: it could be legal trouble, corruption inside the company, who knows.
I don’t know, and I have no prediction of when Mobile Legends will die. I don’t even play or follow it.
Kenapa game dulu banyak filter warna kuning/piss filter? (ip***)
Tren zaman itu.
Why did older games have so much yellow/piss filter?
The trend of that era.
Kapan sebuah video game bisa disebut retro? Karena umur, hardware nggak didukung lagi, atau estetiknya nggak mainstream lagi? (pa***)
“Retro” itu label budaya, bukan angka. Kapan sebuah produk berpindah dari “barang berguna” jadi “barang kenangan”. Apakah orang-orang melihat produk tersebut sebagai pilihan belanja atau sebagai sejarah yang dirawat oleh komunitasnya? Dalam game, ini definisi yang terlalu relatif.
When can a video game be called retro? Because of age, hardware no longer supported, or aesthetics no longer mainstream?
“Retro” is a cultural label, not a number. It’s about when a product shifts from “a useful thing” to “a keepsake”. Do people see it as a shopping choice, or as history preserved by its community? In games, this definition is far too relative.
Mod game Steam itu termasuk pelanggaran license nggak? (m.***)
Menurutmu jika itu melanggar lisensi, apakah Steam akan memfasilitasi mod melalui Steamworkshop? Akan menjadi pelanggaran jika kamu memperjualbelikannya.
Are Steam game mods a license violation?
If you think it violated the license, would Steam facilitate mods through the Steam Workshop? It becomes a violation if you sell them.
Ekstensi kayak Groupy.id itu legal dan etis nggak, bang? (re***)
Saya tidak tahu detail legalnya, jadi saya tidak mau menebak. Yang jelas, layanan seperti itu biasanya ada di area abu-abu dan ada risiko akun atau lisensi dicabut. Pertimbangkan sendiri, ya.
Are extensions like Groupy.id legal and ethical?
I don’t know the legal details, so I won’t guess. What’s clear is that services like that usually sit in a gray area, and there’s a risk of accounts or licenses being revoked. Weigh it yourself.
Market game di Indo bisa besar dan nggak cuma muter di mobile? (Ga***)
Apakah pemerintah bisa menaikkan status kelas menengah?
Can Indonesia’s game market grow big and not just revolve around mobile?
Can the government lift the middle class?
Perlu nggak “patron” kayak Bookstagram (mis. akun yang mopulerin baca buku) di industri game biar masyarakat kita ngonsumsi game dengan benar? (Ga***)
Entahlah, kenapa tidak kamu coba?
Do we need “patrons” like Bookstagram (e.g. accounts that popularize reading) in the game industry so our society consumes games properly?
Who knows, why don’t you try it?
Literasi ber-video game itu ada? Soalnya akun lu fokus ke sana. (Ga***)
Menurut saya literasi sendiri terletak pada individunya dibandingkan apa yang dikonsumsinya. Itu mengapa, menurut saya literasi pada game sama saja dengan literasi pada film ataupun novel; memiliki kemampuan untuk menghasilkan, menafsirkan, dan memahami konteks.
Does video-game literacy exist? Your account seems focused on that.
To me, literacy lies in the individual more than in what they consume. That’s why, I think, literacy in games is the same as literacy in film or novels: having the ability to produce, interpret, and understand context.
5. Random / Off-topic

Ricoh FX-30 Super, Vibe 100 BW
Top 4 movies? (cs***)
Per hari ini: Perfect Days (2023), The Departed (2006), The Prestige (2006), dan maaf, saya harus jujur, Borat (2006).
Top 4 movies?
As of today: Perfect Days (2023), The Departed (2006), The Prestige (2006), and, sorry, I have to be honest, Borat (2006).
Info loker desain grafis, min? (ar***)
Semangat.
Any graphic design job openings, admin?
Good luck.
Gimana perasaan lu soal kabar vonis penjara 10 tahun (Nadiem)? (f.***)
Perasaan saya adalah menahan diri agar tidak menambah noise yang tidak perlu.
How do you feel about the news of the 10-year prison sentence (Nadiem)?
My feeling is restraint, so as not to add unnecessary noise.

Leave a comment